Dipalak anak kecil

Posted: Oktober 21, 2011 in Cerita dari Backpacker
Tag:, , ,

Oleh Trinity The Naked Traveler

Berkali-kali ke Kalimantan, saya belum pernah mengunjungi kampung suku Dayak asli yang tinggal di tengah hutan. Dulu waktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kalimantan Tengah, saya memang tinggal di kampung bersama orang Dayak. Tapi itu sudah tidak asli karena terletak di perumahan yang dibangun untuk para transmigran, jadi tidak ada Rumah Lamin (rumah panjang tradisional tempat mereka tinggal) dan tidak ada orang yang telinganya panjang diganduli anting besar – sehingga kurang sah rasanya.

Waktu lagi ke Samarinda, katanya kalau mau ke kampung Dayak, harus berkendara 8-12 jam atau 24 jam naik perahu ke Tanjung Isuy atau Pepas Eheng. Supir mobil sewaan aja males nganterin ke sana, apalagi pas musim hujan, karena jalannya rusak berat. Akhirnya teman saya, Dragon, mengusulkan untuk pergi ke Pampang, hanya sekitar 1 jam dari Samarinda. Katanya setiap hari Minggu, suku Dayak Kenyah di Pampang mempertunjukkan tarian tradisional di Rumah Lamin. Sounds good! Jadi saya nggak usah rempong pergi jauh-jauh.

Jam 12.30, saya sudah tiba di Pampang. Kampungnya cukup modern, meski jalanannya masih tanah yang becek. Sebagian besar rumahnya dari tembok. Beberapa di antaranya memiliki garasi beserta motor atau mobil. Di tengah kampung terdapat Rumah Lamin dan parkiran mobil yang luas. Pada dinding rumah kayu tersebut terukir motif khas Dayak dengan didominasi warna kuning dan hitam. Rupanya Rumah Lamin yang ini sudah berubah fungsi menjadi ruang pertemuan terbuka dan bazar suvenir dadakan.

Saat menaiki anak tangganya, seorang anak perempuan cantik menyapa saya, “Halo, tante! Silakan masuk! Menarinya baru mulai jam 2 siang.” Begitu duduk, selusin anak berusia 5-10 tahun datang mengerubuti saya dan mengajak ngobrol. Mereka bermata sipit, berkulit putih bersih dengan pipi kemerahan karena panas matahari – semuanya mengenakan pakaian tradisional Dayak dengan payet dan manik-manik. So cute! Kami pun asyik mengobrol, bermain teka-teki, dan bernyanyi bersama (mereka penganut agama Kristen sehingga lagu-lagunya pun lagu Sekolah Minggu). Mereka tertawa terbahak-bahak melihat kelakukan saya yang katanya lucu, bahkan anak-anak kecil minta digendong karena katanya saya gendut kayak bantal. Wah, sungguh ramah anak-anak ini!

Satu jam kemudian, stan dibuka untuk pendaftaran. Biaya masuk menonton tarian Rp 15.000/orang, satu kamera dikenakan biaya Rp 25.000, dan berfoto bersama orang Dayak berkuping panjang dikenai biaya Rp 25.000 per 3 frame. Hmm, cukup mahal. Sebagai imbalannya, pengunjung diberi gelang bermanik-manik dengan tulisan “Pampang”. Saya berpikiran positif aja, toh uang ini akan dipakai mereka sendiri untuk mengembangkan wisata budaya Dayak.

Tarian dimulai jam 14.15. Seluruhnya ada enam tarian yang sebagian besar dilakukan oleh anak-anak. Musik dimainkan oleh 3 bapak-bapak dengan gitar dan semacam kolintang. Sebelum tarian dimulai, dua orang MC menceritakan tentang arti tari-tarian, seperti tari perang, cinta, panen, burung, dll. Tarian anak perempuan memegang bulu burung Enggang (burung simbol Dayak), anak laki-laki memegang Mandau (pedang tradisional Dayak) dan perisai. Rupanya anak-anak yang tadi main sama saya tidak ikut menari, tapi tetap berkostum penari.

Tepat begitu tarian selesai, anak-anak tadi berlari mengerubungi saya. Tiba-tiba mereka menjadi sangat agresif dengan berkata, “Mana uangnya, tante? Tadi kan tante foto-foto, itu tidak gratis! Bayar!” Saya sampai terperangah dan akhirnya menjawab, “Nanti ya? Mau foto-foto yang lain dulu,” karena saya sedang menemani teman yang memotret nenek-nenek berkuping panjang. Rupanya yang berkuping panjang hanyalah tinggal orang-orang tua, itu pun hanya wanita. Kaki dan tangannya pun masih penuh dengan tato yang berwarna kebiruan.

Eh ternyata si nenek ini juga mengejutkan. Sambil difoto dia terus berkata, “Sudah lebih dari 3 kali! Kau harus bayar lagi!” Karena ini untuk kepentingan liputan, saya pun jadi tawar-menawar. Si nenek meski setengah tersenyum tapi mulutnya terus ngedumel minta duit! Untuk membuat wajahnya rileks pun, saya harus menyelipkan uang di tangannya. Sementara anak-anak itu menunggu dengan wajah jutek minta dibayar juga.

Kelar dengan si nenek, beberapa anak teruus menguntit sambil membentak, “Harganya 25 ribu untuk 3 kali, tapi tante kan foto bersama banyak anak, jadi minta lebih!” Saya memberikan selembar Rp 50 ribu dan… langsung ditolak! Tentu saya syok, secara tadi di Lamin cuman foto rame-rame 3 frame pake kamera saku pula. Saya pun jadi “ogah rugi”, lalu menyuruh mereka berpose untuk stok foto teman saya. Sama seperti si nenek, tidak ada kata lain yang keluar dari mulut mereka selain minta duit – bahkan anak berusia 5 tahun ikutan malak dengan agresifnya! Bukan cuma saya, para pengunjung lain yang ikutan foto bersama anak-anak di situ pun dipalak dengan hebohnya meski hanya foto pake handphone. Beberapa pengunjung sampai mengurungkan niat dan buru-buru kabur.

Saya menyelipkan selembar Rp 50 ribu lagi dan salah satu anak perempuan (kelihatannya dia kepala geng) membentak, “Mana cukup duit seratus ribu!” Ebuset! Ke mana anak-anak yang lucu tadi? Tiba-tiba sekarang jadi buas! Akhirnya saya merelakan beberapa lembar uang kertas dengan total Rp 50 ribu lagi dan berkata bahwa saya tidak ada duit lagi dan mau pulang. Meski terus protes, tapi akhirnya si anak merenggut uang kertas itu dari tangan saya dengan muka jutek tanpa berterima kasih. Anak-anak lain langsung mengerubungi si anak tadi dan dengan suara keras mereka saling menyikut minta bagian. Saya sampai bengong sendiri. Ketika saya mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, tidak satu pun dari mereka yang memandang saya karena sibuk berantem satu sama lain. Ya ampun, kecil-kecil sudah komersil dan buas!

Entah siapa yang mulai adanya praktek seperti ini. Saya sih bisa mengerti bahwa ada bayaran untuk foto bersama orang lokal, apalagi suku eksotis, dimana sudah menjadi hal yang “wajar” di dunia pariwisata. Di beberapa tempat lain di Indonesia pun kadang ada bayaran. Di negara lain seperti Mesir dan Nepal juga ada. Tapi untuk harga semahal itu dan dipalak oleh anak-anak kecil… sungguh keterlaluan!

Comment Dila

miris bacanya mbak :( pantas bule2 ogah berkunjung ke dayak,udah susah medannya,kelakuannya kayak gitu.beda banget pas ke Chiang Rai,memang ada biaya masuk u/ke perkampungan suku berkalung besi tp mereka ga sebuas itu malakinnya.duh,jangan heran deh kalau sekarang orang rame2 wisata ke luar negeri,lagian bangsa sendiri aja malakinnya lebih parah dr orang luar,bah…di-publish aja ke media kelakuannya itu mbak,biar pemerintah daerahnya tahu.masih untung malakinnya sm bangsa sendiri,kalau buas gitu sm bule bisa ngerusakin citra Indonesia ajaa…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s